Pages

Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2011

Di Balik Kemilau Hiasanmu


Mengenakan perhiasan bagi wanita merupakan sesuatu yg sangat lazim. Masalah tdk semua perhiasan yg jamak dikenal di masyarakat yg mencocoki syariat.
أَوَمَنْ يُنَشَّؤُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبْيِنٍ
“Apakah patut orang yg dibesarkan dlm keadaan beperhiasan sedang dia tdk dapat memberi alasan yg jelas dlm pertengkaran.”
Kenyataan menunjukkan wanita memang senang berhias sebagaimana firman Allah dlm ayat yg mulia di atas. Islam pun datang menetapkan aturan mana perhiasan yg boleh dikenakan dan mana yg terlarang. Untuk perhiasan pada wajah telah disinggung pada edisi sebelumnya. Bahasan kali ini merupakan kelanjutannya.

Berbagai jenis dan bentuk perhiasan
Dibolehkan bagi wanita utk memakai berbagai jenis perhiasan baik yg terbuat dari emas perak mutiara atau yg lainnya. Sama saja apakah perhiasan itu diletakkan di telinga tangan ataupun kakinya. Hal ini bisa diketahui di antara dari hadits-hadits yg mulia berikut ini:
Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma bertutur: “Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat mengimami manusia pada hari Iedul Fithri kemudian beliau berkhutbah. Setelah itu beliau mendatangi tempat wanita utk memberikan peringatan dan nasehat kepada mereka dlm keadaan beliau bersandar pada tangan Bilal. Beliau mendorong mereka utk bersedekah. Bilal pun membentangkan baju utk menadah sedekah tersebut.”
Ibnu Juraij yg mendengar hadits ini dari ‘Atha rawi yg menyampaikan riwayat dari Jabir bertanya: “Apakah yg mereka berikan itu zakat Iedul Fithri?”. “Bukan” kata Atha. “Tetapi itu adl sedekah mereka pada hari tersebut” lanjutnya. “Para wanita itu melemparkan cincin-cincin mereka dan perhiasan lain sebagai sedekah.”
Dalam riwayat Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْعِيْدِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهُما وَلاَ بَعْدَهُما ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلاَلٌ فَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدقَةِ فَجَعَلَتِ الْمَرْأَةُ تُلقِي قُرُطَهُنَّ.
“Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat Ied dua rakaat dan tdk melaksanakan shalat sunnah sebelum dan sesudahnya. Kemudian beliau mendatangi para wanita dgn ditemani Bilal. mk beliau memerintahkan mereka utk bersedekah. Mendengar anjuran tersebut mulailah wanita yg hadir melemparkan anting-antingnya.”
‘Aisyah radhiallahu anha pernah meminjam kalung milik saudara perempuan Asma bintu Abi Bakar utk berhias di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kalung ini kemudian jatuh dari ‘Aisyah dlm satu safar - bersama Rasulullah dan dicari oleh para shahabat hingga mereka tertahan di tempat yg tdk ada air sementara mereka hendak shalat. Dari peristiwa ini turun syariat tayammum dlm Al Qur’an surat Al-Maidah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapat hadiah dari raja Najasyi berupa perhiasan di antara ada cincin emas bertahtakan batu permata Habasyi. Beliau mengambil kemudian memanggil cucu Umamah putri Zainab. Lalu beliau berkata: “Berhiaslah dgn cincin ini wahai cucuku.”
Dalam kitab Shahih- Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah membuat bab khusus yg berjudul “Cincin bagi wanita” dan beliau menyatakan bahwa ‘Aisyah mengenakan cincin-cincin emas.
Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah: “Kaum wanita diperkenankan memakai sutera dan seluruh jenis sebagaimana dibolehkan bagi mereka memakai cincin emas dan seluruh perhiasan dari emas demikian pula dari perak. Sama saja apakah wanita itu sudah menikah atau belum masih muda atau sudah tua kaya ataupun miskin.”
Beliau juga menyatakan bahwa kaum muslimin bersepakat tentang boleh wanita memakai cincin emas.
Ibnu Qudamah dlm Al-Mughni berkata: “Dibolehkan bagi wanita mengenakan perhiasan dari emas perak dan permata dgn bentuk yg biasa mereka kenakan misal gelang tangan gelang kaki anting-anting dan cincin. Termasuk pula perhiasan yg dikenakan di wajah-wajah mereka di leher di tangan di kaki di telinga mereka dan selainnya. Adapun perhiasan yg menurut kebiasaan mereka tdk lazim dipakai seperti sabuk dan semisal dari perhiasan laki2 mk diharamkan bagi wanita memakainya.”
Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa perhiasan emas dan perak boleh dipakai wanita dgn kesepakatan ulama.
Selain emas perak dan batu-batu mulia seperti berlian dan lain wanita dibolehkan pula memakai perhiasan dari mutiara . Allah ta`ala berfirman:
وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُوْنَ لَحْماً طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوْنَ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَا
“Dan dari masing-masing laut itu kalian dapat memakan daging yg segar dan kalian dapat mengeluarkan perhiasan yg dapat kalian pakai.”
Ibnu Hazm berkata: “Tidak ada perhiasan yg dikeluarkan dari laut kecuali mutiara. mk dari ayat Al Qur’an di atas ada penetapan halal mutiara ini bagi lelaki maupun wanita.”

Di jari mana diletakkan cincin?
‘Ali radhiallahu anhu berkata:
نَهاَنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي إِصْبَعِي هَذِهِ أَوْ هَذِهِ. قَال: فَأَوْمَأَ ِإلىَ الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيْهَا
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarangku memakai cincin di jariku ini atau yg ini” sambil mengisyaratkan jari tengah dan jari setelah .
Larangan yg disebutkan dlm hadits ‘Ali di atas berlaku bagi laki2 sementara bagi wanita tdk diterapkan larangan demikian krn itu Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Kaum muslimin sepakat sunnah bagi laki2 mengenakan cincin di jari kelingking sedangkan wanita boleh memakai cincin di seluruh jari

Melubangi daun telinga
Dalam masalah kebolehan wanita melubangi daun telinga utk menggantungkan anting-anting diperselisihkan oleh ulama. dlm Ash-Shahihain disebutkan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menekankan para wanita utk bersedekah ada di antara mereka yg menyedekahkan anting-anting . Hadits ini cukuplah sebagai dalil tentang boleh wanita memakai anting-anting. Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Dibolehkan melubangi daun telinga anak perempuan dlm rangka berhias demikian dinyatakan oleh Al-Imam Ahmad. Sedangkan utk anak laki2 beliau membencinya. Perbedaan kedua adl perempuan butuh akan perhiasan sehingga ada kemaslahatan melubangi daun telinganya. Berbeda hal dgn anak laki-laki”.
Beliau juga menyatakan bila ada yg berkata: Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang musuh Iblis yg pernah menyatakan:
وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ اْلأَنْعَامِ
“Dan sungguh aku akan memerintahkan mereka hingga mereka benar-benar akan memotong telinga-telinga hewan ternak mereka.”
Ini menunjukkan bahwa memotong telinga membelah dan melubangi merupakan perintah setan. mk dijawab bahwa qiyas ini termasuk qiyas yg paling rusak. Karena mereka yg diperintah oleh setan utk memotong telinga hewan mereka dgn ketentuan bila seekor unta betina telah beranak sebanyak lima kali kemudian bunting lagi utk ke-6 kali dan ternyata yg lahir adl jantan merekapun membelah telinga unta betina tersebut. Dan mereka juga mengharamkan utk ditunggangi serta diambil manfaat tdk boleh dihalau dari sumber air yg sedang diminum tdk pula dari tanaman. Mereka mengistilahkan dgn bahirah. Setan mensyariatkan utk mereka dgn satu syariat dari sisinya. Jika demikian bagaimana bisa dibandingkan dgn perbuatan melubangi daun telinga anak perempuan utk diletakkan perhiasan yg dibolehkan oleh Allah? Adapun melubangi telinga anak laki2 mk tdk ada kemaslahatan pada baik dari sisi agama maupun dunia krn itu tidaklah diperkenankan.”

Minyak wangi
Wangi yg semerbak memberi nuansa tersendiri melapangkan dada dan menyenangkan hati. Sehingga wajar bila tiap insan menyukai termasuk Rasul kita yg mulia shallallahu ‘alaihi wasallam. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيْبُ وَجَعَلَ قُرَّةَ عَيْنِيْ فِي الصَّلاَةِ
“Wanita dan minyak wangi dijadikan sebagai kecintaanku dari dunia ini dan shalat dijadikan sebagai penyejuk mataku.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tdk pernah menolak bila diberikan wewangian . Beliau menyatakan kepada shahabatnya:

مَنْ عُرِضَ عَلَيْهِ رَيْحَانٌ فَلاَ يَرُدَّهُ فَإِنَّهُ خَفِيْفُ الْمَحْمَلِ طَيِّبُ الرِّيْحِ
“Siapa yg ditawari raihan mk janganlah ia menolak krn raihan ini ringan dibawa dan aroma wangi.”
Hadits ini menunjukkan dimakruhkan menolak tawaran berupa minyak wangi terkecuali bila seseorang memiliki udzur hingga ia terpaksa menolak demikian dinyatakan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah.
Seorang shahabat dari kalangan Anshar mengabarkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
ثَلاَثٌ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ: الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالسِّوَاكُ وَيَمُسُّ مِنْ طِيْبٍ إِنْ وَجَدَ
“Tiga perkara yg seharus dilakukan oleh seorang muslim yaitu mandi pada hari Jum`at bersiwak dan menyentuh winyak wangi jika didapatkan.”
Seorang wanita juga disukai utk selalu menebarkan keharuman dari tubuh di hadapan sang suami. Sehingga sepantas kalau ia selalu memakai minyak wangi atau yg semisal dari wewangian yg diperkenankan.
Adapun perbedaan antara minyak wangi laki2 dgn minyak wangi wanita disebutkan berita dari Anas radhiallahu ‘anhu. Ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku:
إِنَّ طِيْبَ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيْحُهُ وَخَفِيَ لَوْنُهُ وَطِيْبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِيَ رِيْحُهُ
“Minyak wangi laki2 adl yg tercium jelas bau dan tdk tampak warnanya. Sedangkan minyak wangi wanita adl yg tampak warna dan tersembunyi baunya.”
Berkata Al-Munawi rahimahullah dlm Faidhul Qadir : “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
طِيْبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِيَ رِيْحُهُ
yaitu tampak warna dan tersembunyi bau dari laki2 yg bukan mahram seperti za’faran.”
Berkata Al-Baghawi dlm karya Syarhus Sunnah: “Sa’ad menyatakan: ‘Aku berpandangan mereka membawa pengertian sabda Nabi
ini apabila si wanita hendak keluar rumah. Adapun bila ia berada di sisi suami mk ia boleh memakai minyak wangi/ wewangian apa saja yg diinginkan.”
Dalam syariat yg mulia ini diharamkan bagi wanita bila tercium wangi oleh laki2 selain mahramnya. Bahkan wanita yg memakai wewangian kemudian sengaja melewati sekelompok lelaki yg bukan mahram dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai wanita pezina.

كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ. وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَا وَكَذَا
“Setiap mata itu berzina . Bila seorang wanita memakai wewangian kemudian ia melewati majelis laki2 mk wanita itu begini dan begitu.”
Dalam riwayat Ahmad disebutkan:
“Wanita mana saja yg memakai wangi-wangian kemudian ia melewati satu kaum agar mereka mencium wangi mk wanita itu pezina.”
Mengapa si wanita disebut demikian? Karena ia mengobarkan syahwat lelaki dgn aroma yg berasal dari wewangian yg dipakainya. Sehingga mereka terpancing utk memandangnya. Bila demikian si lelaki menjadi berzina dgn kedua mata dan si wanitalah penyebab mk ia berdosa. Demikian kata Al-Mubarakfuri dlm Tuhfatul Ahwadzi .
Karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang wanita yg ingin ikut shalat berjamaah di masjid utk memakai minyak wangi sebagaimana sabdanya:

إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْعِشَاءَ فَلاَ تَطَيَّبْ تِلْكَ اللَّيْلَةََََََ
“Apabila salah seorang dari kalian ingin ikut shalat ‘Isya berjamaah mk janganlah ia memakai minyak wangi pada malam itu.”
Pun beliau melarang wanita yg terlanjur memakai wewangian utk hadir dlm shalat berjamaah di masjid.
أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُوْرًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ
“Wanita siapa saja yg memakai wewangian mk jangan ia hadir bersama kami dlm shalat ‘Isya.”
Semua aturan yg agung ini ditetapkan utk menutup pintu fitnah agar kaum lelaki tdk terfitnah dgn wanita dan demikian juga sebaliknya.
Demikian apa yg dapat kami susun utk pembaca semoga Allah menjadikan bermanfaat. Wallahu ta`ala a`lam bish-shawab.


The Pillars of Islam


Islam is established on five pillars as mentioned in the hadeeth narrated by (Abdullah) Ibn Umar in which the Prophet said:
Islam is built on five [pillars]: To single out Allah in worship (and in other narration: “The testimony that none has the right to be worshipped but Allah and that Muhammad is the slave of Allah and His Messenger”) and to establish the prayers and to offer the Zakaah and to fast Ramadan and to perform the pilgrimage.
A person said (to the narrator)
“Pilgrimage or the fast of Ramadan?”
To this (the narrator) replied:
No (it is not the pilgrimage first) but the fast of Ramadan precedes the pilgrimage this is how I have heard it from Allah’s Messenger. (al-Bukhari and Muslim reported this hadeeth and this wording is Muslim’s)
The five pillars in this hadeeth indicate the following:
  1. “The Shahaadah (testimony and witness) that none has the right to be worshipped except Allah” is belief with firm resolve expressed by the tongue that this testimony is true. The person testifying makes a firm commitment that the testimony is true as if he or she is an eyewitness to the event testified about.
    Even though more than one thing is being testified about1 this testimony is considered only one pillar. This may be for one of two possible reasons. Either it is because the ) and thus the
    U) is he who conveys the message of Allah (rMessenger ( testimony that he is the slave and Messenger of Allah is a necessary completion and in reality part of the testimony of LA ILAAHA ILL-ALLAH or it is because these two testimonies are necessary for the soundness and acceptance of deeds. No deed is good or acceptable unless it fulfills two conditions: that the act be done purely for Allah (Ikhlaas) and that it be done in accordance to the way shown to us by the )2. By doing the act purely for Allah the testimony of LArMessenger ( ILAAHA ILL-ALLAH is brought into reality and fulfilled and by obeying the Messenger the testimony 'Muhammad abdullaahi wa rasooluh' (Muhammad is the slave of Allah and His Messenger) is brought into reality and fulfilled.
    There are many great benefits of the declaration of the testimony one of which is the liberation of the heart mind and soul of man from slavery and servitude to created things and from following others besides the Messengers.
  2. “To establish Salaah” (the obligatory prayers) means worshipping Allah in the complete and proper manner with full compliance to its prescribed times and postures. There are many benefits of the prayer including tranquility inner peace happiness and contentment and the fact that it prevents one from evil acts and atrocities.
  3. “To offer the Zakaah” (obligatory charity) means worshipping Allah by giving the determined amount of obligatory alms from one’s wealth and possessions. The benefits of charity include purifying the heart from the ugly traits of greed and miserliness besides the obvious benefit of providing for the needy Muslims and needs of the community at large.
  4. “To perform the Sawm (fast) of Ramadan” means worshipping Allah by fasting during the days of the Islamic month of Ramadan from early dawn to after sunset by not eating or drinking (or engaging in legal sexual intercourse). The benefits of fasting include training oneself to hold back from prohibited and that which causes the displeasure of Allah the Most Almighty and Majestic.
  5. “To perform the Hajj” (pilgrimage to Makkah) means worshipping Allah by traveling to Makkah to perform all the sacred rites of pilgrimage. The benefits of pilgrimage include training oneself to spend the utmost of one’s wealth and physical exertion for Allah’s pleasure. For this reason Hajj is a type of “Jihad” (striving and exerting oneself) in the way of Allah.
    The benefits that we have mentioned here and many others not mentioned are the means to purify the Muslim nation and community and establish it upon the religion of truth worshiping Allah (the Creator) sincerely and acting with justice towards all His creatures. If these basic foundations of Islamic Law are correct then whatever other actions are built upon them will also be correct. The Islamic nation and community will only prosper and be successful by fulfilling its religious obligations. Falling short in fulfilling this obligation will proportionally deprive them of success and prosperity.
    To see a clear evidence of this principle read the following verse from the Book of Allah:
    And if the people of the town had believed and had piety and fear of Allah We would have opened for them the blessings from the heaven and the earth but they rejected (the truth and the Messengers). So we took them for what they used to do. Do people of the towns feel secure against that coming of our Punishment by night while they are asleep? Or do the people of the towns feel secure against the coming of our Punishment in the afternoon while they play? Do they feel secure against the plan of Allah? None feels secure from the plan of Allah except the people who are lost and doomed
    . [Surah al-A’raaf (7):96-99]
Examine the histories of the peoples of the world and you will see lessons for those that take heed and are unbiased. We indeed seek Allah’s aid.

Cinta Kepada Allah Tauhid


Firman Allah Ta’ala :
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengangkat sembahan-sembahan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.”
“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai; itu lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.”.”
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada yang lain; mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah; dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah darinya sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakkan ke dalam api.”
Dan disebutkan dalam riwayat lain: “Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, sebelum…” dst.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ia berkata:
“Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah, membela seseorang karena Allah dan memusuhi seseorang karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah hanyalah bisa diperoleh dengan hal tersebut. Dan seorang hamba tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman, sekalipun banyak shalat dan shiyamnya, sehingga dia bersikap demikian. Persahabatan di antara manusia pada umumnya didasarkan atas kepentingan dunia, namun hal itu tidak berguna sedikitpun bagi mereka.”
Ibnu ‘Abbas, dalam menafsirkan firman Allah Ta’ala: “… dan putuslah hubungan antara mereka sama sekali.” , ia mengatakan: “yaitu kasih sayang.”
Kandungan tulisan ini:
  Tafsiran ayat dalam surah Al-Baqarah. Ayat ini menunjukkan barangsiapa mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya seperti mencintai Allah maka dia adalah musyrik.
  Tafsiran ayat dalam surah Bara’ah/At-Taubah. Ayat ini menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dan cinta kepada yang dicintai Allah wajib didahulukan di atas segala-galanya.
  Wajib mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih daripada kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga dan harta benda.
  Pernyataan “tidak beriman”, bukan berarti keluar dari Islam, .
  Bahwa iman ada rasa manisnya, kadangkala dapat diperoleh seseorang dan kadangkala tidak.
  Disebutkan empat sikap yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kewalian dari Allah, dan seseorang tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman kecuali dengan keempat sikap itu.
  Pemahaman Ibn ‘Abbas terhadap realita, bahwa hubungan persahabatan pada umumnya didasarkan atas kepentingan duniawi.
  Tafsiran ayat: “… dan terputuslah segala hubungan antara mereka sama sekali.” Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang yang telah dibina orang-orang musyrik di dunia akan terputus sama sekali ketika di akherat, dan masing-masing dari mereka akan melepaskan diri darinya.
  Disebutkan bahwa di antara orang-orang musyrik ada yang mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat.
  Ancaman terhadap seseorang yang kedelapan perkara tersebut di atas lebih dicintainya daripada agamanya.
  Memuja selain Allah dengan mencintainya sebagaimana mencintai Allah, itulah syirik akbar.
Dikutip dari buku: Kitab Tauhid karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

Islam Di Antara Hantaman Badai Peradaban Kuffar


penulis Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
Syariah Hadits 15 - Desember - 2004 04:21:18
   Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      } قُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ اَلْيَهُوْدَ وَ النَّصَارَى ؟ قَالَ } ؟
      Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang2 sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai seandai mereka masuk ke lubang dhabb1 niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya. Kami tanyakan: “Wahai Rasulullah apakah mereka yg dimaksud itu adl Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”
Hadits yg mulia di atas diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dlm Shahih- kitab Ahaditsul Anbiya bab Ma Dzukira ‘an Bani Israil dan Kitab Al-I‘tisham bil Kitab was Sunnah bab Qaulin Nabi  “Latattabi‘unna sanana man kana qablakum” dan Al-Imam Muslim dlm
r Shahih- Kitab Al-‘Ilmi dan diberi judul bab oleh Al-Imam An-Nawawi dlm kitab syarah terhadap Shahih Muslim bab Ittiba‘u Sananil Yahudi wan Nashara.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yg senada dgn hadits di atas dlm hadits yg dibawakan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
      } فَقِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَفَارِسَ وَ الرُّوْم ؟ فَقَالَ : }
    “Tidak akan tegak hari kiamat sampai umatku mengambil jalan hidup umat sebelum sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. mk ditanyakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah seperti Persia dan Romawi?”2 Beliau menjawab: “Siapa lagi dari manusia kalau bukan mereka?”
Pengabaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm dua hadits yg mulia di atas merupakan tanda dan bukti tentang kebenaran nubuwwah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta merupakan mukjizat beliau yg dzahir krn telah tampak dan telah terjadi apa yg beliau beritakan tersebut.
Terlebih khusus lagi bila kita menyaksikan keadaan kaum muslimin di zaman kita ini kebiasaan menyerupai dan meniru orang Barat yg notabene mereka itu adl orang2 kafir dari kalangan Yahudi dan Nashrani merupakan fenomena yg biasa namun menyakitkan dan menyedihkan. Sehingga dgn budaya penjajah ini kalangan muda maupun orang2 tua dari kaum muslimin seakan merasa minder dan rendah derajat bila tdk sama dgn gaya hidup model dan budaya orang2 kafir . Sebalik mereka merasa bangga dan sangat percaya diri bila mana mereka dapat “tampil sama” atau paling tdk sekedar mirip dgn orang2 kafir.
Budaya “yang penting dari Barat” dan “asal sama dgn Barat” ini telah mencengkeram kehidupan kaum muslimin dari kalangan orang2 metropolitan merambah sampai ke pedesaan dan pedusunan yg terpencil bagaikan sebuah revolusi peradaban yg telah disiapkan oleh orang2 kafir sehingga semua yg datang dari Barat mereka anggap baik dan diterima dgn penuh ketundukan. Ibarat mereka berkata sami’na wa atha’na baik itu cara berpakaian cara bergaul cara makan cara berbicara gaya hidup dan sebagainya.
Budaya-budaya impor yg diobral orang2 Barat lewat media massa baik di televisi yg merupakan da’i yg paling berhasil di sisi mereka ataupun lewat ekspos kehidupan artis-artis mereka yg laku keras diterima oleh kaum muslimin yg maghrur dan buta mata hati dari semua lapisan. Jangankan mereka yg dikatakan bodoh terhadap agama orang yg dianggap tahu agama pun ikut jadi korban.
Berkata Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullah dan yg lain dari kalangan salaf: “Sungguh orang yg rusak dari kalangan ulama kita krn penyerupaan dgn Yahudi. Dan orang yg rusak dari kalangan ahli ibadah kita krn penyerupaan dgn Nashrani.”
Gelombang badai yg besar ini menghantam segala apa yg ada di hadapan dan membawa korban yg besar. Wallahu Al-Musta‘an wa ilallahi Al-Musytaka .
Sungguh benar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyatakan umat beliau akan meniru dan menyerupai umat terdahulu sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta. Karena saking ingin sama dan serupa dgn peradaban kafirin bila diibaratkan umat terdahulu masuk ke lubang dhabb yg sedemikian sempit mk umat ini pun akan masuk pula ke dalamnya. Nas’alullah As-Salamah wal ‘Afiyah .
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menyatakan: “Dalam hadits di atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan penyebutan lubang dhabb krn lubang sangat sempit. Namun bersamaan dgn itu umat beliau akan mengambil jejak umat terdahulu dan mengikuti jalan mereka walaupun seandai mereka masuk ke lubang yg sesempit itu niscaya umat ini akan tetap mengikutinya.”
Yang dimaksud dgn sejengkal sehasta dan penyebutan lubang dhabb dlm hadits ini adl utk menggambarkan betapa semangat umat ini mencocoki umat terdahulu dlm penyelisihan dan maksiat mencontoh mereka dlm segala sesuatu yg dilarang dan dicela oleh syariat.
Ibnu Baththal rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa umat beliau akan mengikuti perkara-perkara baru bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana terjadi pada umat-umat sebelum mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan hal ini dlm hadits yg banyak bahwasa di akhir zaman akan ada kejelekan. Dan hari kiamat tdk akan datang kecuali pada sejelek-sejelek manusia dan agama ini hanya tetap tegak di sisi orang2 yg khusus.”3
Dalam hadits Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Yahudi dan Nashrani sedangkan dlm hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Persia dan Romawi. Karena memang Romawi identik dgn Nashrani sementara di kalangan bangsa Persia ada orang Yahudi. Namun dimungkinkan pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban sesuai dgn tempat yakni dlm perkara yg berkaitan dgn hukum di antara manusia dan politik kemasyarakatan umat ini akan mengikuti Persia dan Romawi. Sedangkan dlm perkara yg berkaitan dgn agama yg pokok maupun yg cabang umat ini akan mencontoh Yahudi dan Nasrani.
      Tercela tasyabbuh dan keharusan menyelisihi kuffar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatakan dlm sabda beliau:
     {{لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ{{
      “Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang2 sebelum kalian.”
Tidaklah dimaksudkan beliau memberikan pengesahan dan penetapan tentang boleh hal tersebut namun justru yg beliau inginkan adl memberi tahdzir dari mengikuti orang kafir dlm perkara kesesatan dan penyimpangan.
Sehingga ketika para shahabat radhiallahu ‘anhum yg baru masuk Islam ketika Fathu Makkah ingin ber-tabarruk dgn pohon beliau mengingkari dgn keras dan menyatakan bahwa ucapan mereka menyerupai dan persis dgn ucapan Bani Israil yg minta sesembahan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Setelah itu beliau mengabarkan bahwa umat beliau akan mengikuti jalan umat terdahulu.
Abu Waqid Al-Laitsi radhiallahu ‘anhu berkata: Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain sementara kami ketika itu baru saja meninggalkan kekufuran -mereka baru berislam ketika Fathu Makkah-. Abu Waqid berkata setelah itu: Lalu kami melewati sebuah pohon kami pun berkata: “Wahai Rasulullah buatkanlah utk kami Dzatu Anwath4 sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath yg berupa sebuah pohon tempat mereka beri’tikaf di sekitar dan menggantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut.” Mendengar permintaan kami seperti itu bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
  “Allah Maha Besar!5 Demi Dzat yg jiwaku berada di tangan-Nya sungguh kalian telah berucap sebagaimana ucapan Bani Israil kepada Musa: 6 Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti jalan orang2 sebelum kalian.”
Dalam kisah di atas jelas sekali bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan demikian dlm rangka peringatan dan pengingkaran beliau bila umat beliau mengikuti umat terdahulu. Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdillah rahimahullah berkata: “Di sini ada larangan dari perbuatan tasyabbuh dgn orang2 jahiliyyah dari kalangan ahlul kitab dan musyrikin.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “ ini merupakan pengabaran tentang akan terjadi perkara tersebut dan celaan bagi orang yg melakukannya. Hal ini seperti pengabaran beliau tentang apa yg akan dilakukan manusia menjelang datang hari kiamat sebagai tanda-tanda kiamat dan perbuatan-perbuatan mereka nanti berupa perkara-perkara yg diharamkan. Dengan demikian diketahui penyerupaan umat ini dgn Yahudi dan Nashrani serta Persia dan Romawi termasuk perkara yg dicela oleh Allah dan Rasul-Nya.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda sebagai peringatan dari menyerupai suatu kaum:
  “Siapa yg tasyabbuh suatu kaum mk ia termasuk dari kaum tersebut.”
Al-Qari rahimahullah berkata: “Siapa yg menyerupai orang2 kafir semisal dlm berpakaian dan selainnya. Atau ia menyerupai orang2 fasik atau orang2 fajir atau dgn pengikut tashawwuf atau menyerupai orang2 yg berbuat kebaikan yakni dlm dosa ataupun dlm kebaikan.”
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Apa yg menimpa sebagian kaum muslimin berupa perkara-perkara yg jelek lagi mengerikan mayoritas terjadi dikarenakan tasyabbuh dgn kuffar. Semisal kesyirikan yg terjadi di Makkah awal disebabkan krn tasyabbuh dgn kuffar.”
Merupakan sifat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk mengubah kemungkaran apabila beliau melihat dan menyerukan kepada yg ma‘ruf dan menganjurkan apabila beliau mengetahuinya. Sehingga ketika ada perkara mungkar baik itu maksiat kesyirikan ataupun kekufuran beliau pasti mengingkarinya. Dan di antara pengingkaran itu adalah beliau paling tdk suka bila ada satu perkara yg dilakukan oleh kaum muslimin menyepakati atau menyerupai orang2 kafir. Hal tersebut salah satu bisa kita lihat dlm peristiwa disyariatkan adzan.
Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Kaum muslimin ketika telah menetap di Madinah mereka berkumpul dan memperkirakan datang waktu shalat dan ketika itu belum ada seruan utk shalat . mk suatu hari mereka membicarakan hal tersebut. Sebagian mereka berkata: “Ambillah lonceng seperti lonceng Nashrani.” Yang lain berkata: “Gunakan terompet seperti terompet Yahudi.” ‘Umar berkata: “Apakah tdk sebaik kalian mengutus seseorang utk memanggil manusia agar  bersabda: “Wahai Bilal bangkitlah
rberkumpul utk shalat?” Rasulullah  serukan adzan utk shalat.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk menyukai terompet Yahudi yg ditiup dgn mulut dan lonceng Nashrani yg dipukul dgn tangan krn meniup terompet dan membunyikan lonceng itu merupakan perbuatan orang Yahudi dan Nashrani. Hal ini menunjukkan larangan beliau dari seluruh perkara yg merupakan kebiasaan Yahudi dan Nashrani.
  Faidah
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Adapun dlm perkara-perkara yg mubah mk tdk bermasalah mengambil . Sehingga kita boleh mengambil pengetahuan-pengetahuan yg bermanfaat dari musyrikin. Demikian juga barang-barang dagangan dan persenjataan. Perkara-perkara ini sebetul asal utk kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
  قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Katakanlah: Siapakah yg mengharamkan perhiasan Allah yg Dia keluarkan utk hamba-hamba-Nya dan yg baik-baik dari rizki? Katakanlah: Perhiasan dan yg baik-baik dari rizki ini diperuntukkan bagi orang2 yg beriman dlm kehidupan dunia dan khusus bagi mereka nanti pada hari kiamat.”
Perkara-perkara yg bermanfaat asal diperuntukkan bagi kaum muslimin. Akan tetapi tatkala kaum muslimin bermalas-malasan musuh-musuh mereka pun mengambil bagiannya. Dengan begitu tdk ada penghalang bagi kaum muslimin utk mengambil perkara-perkara yg bermanfaat tersebut dan ini bukanlah termasuk tasyabbuh. Karena yg dinamakan tasyabbuh hanyalah mengikuti mereka dlm perkara-perkara yg tdk ada faidah dan tdk ada nilai atau mengikuti mereka dlm perkara-perkara yg termasuk dlm ibadah aqidah dan agama.”
  Kekokohan Islam
Islam bagaikan mercusuar yg menerangi dan memberi petunjuk kepada kapal-kapal di tengah samudera di malam yg kelam dan pekat sehingga kapal-kapal tersebut bisa terarahkan dan terbimbing di dlm pelayarannya. Kapal yg mau mengambil penerangan dan petunjuk akan selamat berlayar di tengah lautan. Namun bagi yg enggan akan memperoleh hasil kebinasaannya.
Walaupun dgn keberadaan di tengah samudera mercusuar tdk luput dari hantaman badai dan gelombang samudera yg begitu keras dan dasyhat namun ia tetap kokoh berdiri utk memberikan cahaya utk kemanfaatan. Demikian juga gambaran Islam walaupun ia terus dihantam badai dan gelombang yg dahsyat dari musuh-musuh dgn segala makar yg ditujukan utk meruntuhkan namun ia tetap kokoh berdiri dgn sinar yg tetap menerangi. Hal ini tentu krn Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yg menyempurnakan cahaya Islam tersebut.
  يٌرِيْدُوْنَ لِيُطْفِئُوا نُوْرَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُوْرِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
  “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dgn mulut-mulut mereka namun Allah terus menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang2 kafir itu benci .”
Sungguh siapa yg mengambil petunjuk Islam mk ia akan selamat. Sebalik siapa yg meninggalkan dan tdk memperhatikan Islam mk ia akan celaka dan binasa. Dan tentu mengambil petunjuk Islam itu haruslah secara keseluruhan tdk hanya mengambil sebagian lalu sebagian yg lain ditinggalkan. Yang demikian ini juga tdk akan menyelamatkan oleh krn itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:
.  ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
  “Masukkanlah kalian ke dlm Islam secara kaffah .”
Islam pun tetap akan berdiri kokoh selama hingga akhir zaman tdk akan runtuh dgn perjalanan waktu yg demikian ini krn Allah Subhanahu wa Ta’ala yg memberikan jaminan terhadap penjagaan yg sejalan dgn penjagaan Allah terhadap kitab suci agama ini sebagaimana firman-Nya:
  إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لحَاَفِظًوْنَ
  “Sesungguh Kamilah yg menurunkan Adz Dzikra dan Kami pula yg akan menjaganya”
Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan jaminan terhadap dgn mendatangkan dan memilih penjaga-penjaga agama-Nya dari kalangan hamba-hamba-Nya yg shalihin yg selalu membela agama-Nya sebagaimana Dia Yang Maha Suci berfirman:
  يآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ يِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لآئِمٍ
  “Wahai orang2 yg beriman siapa yg murtad dari agama di antara kalian mk kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yg Dia cintai dan mereka pun mencintai-Nya. Mereka itu merendahkan diri dan lemah lembut terhadap kaum mukminin dan bersikap keras terhadap orang2 kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tdk takut celaan si pencela.”
Demikian pula Rasul-Nya yg mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan dlm sabdanya:
  “Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku yg mendzahirkan al haq tdk bermudharat bagi mereka orang yg menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta’ala sementara mereka dlm keadaan demikian.”
Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullah berkata: “Thaifah yg ditolong ini dikatakan oleh Al-Imam Al-Bukhari bahwasa mereka adl ahlul ilmi. Sementara Al-Imam Ahmad menyatakan: “Bila mereka itu bukan ahlul hadits mk aku tdk tahu lagi siapa yg dimaksud dgn mereka.” Hadits ini walaupun tdk secara lafadz menunjukkan terhadap perkataan Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Ahmad namun sesungguh Ahlul Hadits-lah yg seharus dimasukkan paling awal dlm thaifah ini krn kekokohan mereka di atas Al-Haq pengabdian mereka dan pembelaan mereka terhadap Islam. Semoga Allah membalas mereka dgn kebaikan yg banyak atas apa yg mereka sumbangkan terhadap Islam dan muslimin.”
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Yang diinginkan Al-Imam Ahmad adl Ahlus Sunnah wal Jamaah dan orang yg meyakini madzhab ahlul hadits.”
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Dimungkinkan kelompok ini tersebar di berbagai kalangan kaum muslimin. Sehingga ada di antara mereka orang2 pemberani yg berperang ada fuqaha ada muhadditsun ada orang2 yg zuhud ada orang2 yg memerintahkan kepada yg ma’ruf dan melarang dari yg mungkar dan dari kalangan orang2 yg berbuat kebaikan yg lainnya. Dan tdk mesti mereka berkumpul bahkan yg terjadi mereka terkadang terpencar dan tersebar di berbagai penjuru bumi. Hadits ini merupakan mukjizat yg jelas krn thaifah yg bersifat seperti ini terus-menerus ada alhamdulillah sejak zaman beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang. Dan terus menerus mereka ada sampai datang perkara Allah yg disebutkan dlm hadits.” .
Mudah-mudahan Allah menjadikan kita dari kalangan mereka. Taqabbal da’wana ya Mujibas sailin. Wallahu ta‘ala a’lam bish-shawab.
  1 Dhabb adl hewan melata yg hidup di padang pasir serupa dgn biawak.
2 Persia dgn raja mereka Kisra dan Romawi dgn raja mereka Qaishar merupakan dua bangsa yg terkenal di waktu itu. Dua negeri ini merupakan kerajaan terbesar di muka bumi paling banyak penduduk dan paling luas wilayahnya.
3 Mereka inilah yg dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm sabda beliau:
}
“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku yg mendzahirkan al-haq tdk bermudharat bagi mereka orang yg menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta‘ala sementara mereka dlm keadaan demikian.” -pen.
4 Mereka ingin menggantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut krn mengharapkan barakah dari pohon tersebut.
5 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir krn menganggap besar permintaan tersebut dan merasa heran bukan bertakbir krn senang. Beliau heran bagaimana bisa mereka mengatakan ucapan seperti itu dlm keadaan mereka beriman bahwasa tiada sesembahan yg berhak disembah kecuali Allah saja.
6 Surat Al-A‘raf ayat 138